Jumat, 30 September 2011

Penyusun sejarah PEMALANG KOMPLANG,yang mengulas Legenda Pemalang

Terkait tentang pertanyaan siapa yang melakukan penyusunan uraian,urutan kisah dan para tokoh pelaku terkait buku sejarah yang memuat kejadian demi kejadian dalam legenda Pemalang yang masyhur dengan sebutan PEMALANG KOMPLANG,yang berarti "kekosongan Pemalang" sebelum kedatangan putra Pajang yaitu Pangeran Benowo yang akhirnya memerintah di Pemalang sebagai Adipati.
Jawaban pertanyaan diatas adalah bahwa kisah Pemalang Komplang didapat dari Nyi Ageng Telasih (bu Taswen) yang merupakan putri Ki Jagaraksa dari keturunan Patih Djiwonegoro,adapun silsilahnya sebagai berikut :
- Ki Gede Murti (cincing Murti patih Pemalang pada saat Pemalang di perintah Ki Gede Sambungyudha *1358-1401) menurunkan :
- Ki Patih Sampun Djiwonegoro yang wafat tahun 1616 (dimakamkan di Depok slatri desa Wanarejan kecamatan Taman kabupaten Pemalang) menurunkan :
- Ki Djoyowinogo (tahun wafat tidak diketahui,dimakamkan di desa Kedungbanjar kecamatan Petarukan kabupaten Pemalang) menurunkan :
- Ki Ragawicana (tahun wafat tak diketahui,dimakamkan di desa Kedungbanjar) menurunkan :
- Ki Djakaraksa pangkatdjayabaya (tahun wafat tak diketahui,dimakamkan di kecamatan Pamanukan kabupaten Indramayu Jawa barat) menurunkan:
- Nyi Ageng Telasih/bu Taswen yang diperistri oleh keturunan Buminata yang bernama Ki Singotirto,(tahun wafat ..... ,keduanya dimakamkan di desa Pedurungan kecamatan Taman kabupaten Pemalang) menurunkan :
- Ki Sunari Djoko Tjarito,beliau aktif dalam kesenian wayang kulit sebagai Dalang.dan menjabat sebagai Penilik generasi muda pada Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang.
Dari Ki Sunari inilah kemudian sejarah Pemalang Komplang dibukukan.

1 komentar:

  1. Menarik, baca Blogku juga ya !

    http://panyutro.blogspot.com/2013/02/trah-ki-ageng-mangir-saat-saat-terakhir.html

    Aku menangis saat menulis ini, bukan masalah siapakah dia, tetapi kenapa dia berani mengambil keputusan yang menyebabkan dia harus mati mempertahankan keyakinannya, persis seperti kakek moyangnya Ki Ageng Mangir yang juga harus wafat demi keyakinannya,
    Bertemu keluarga sebelum dihukum tembak
    Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Penggagas Negara Islam Indonesia, dijatuhi hukuman mati oleh Presiden--sekaligus mantan teman satu perguruannya Soekarno. Satu guru satu ilmu, Namun beda nasib Pelaksanaan hukuman mati dilangsungkan Pada tgl 5 September 1962 di sebuah Pulau di Utara Jakarta

    BalasHapus